Roe-091 Hanya Aku Yang Tahu Rahasia Ibu Temanku... Apr 2026

Aku menahan napas. "Apa itu, Bu?" tanyaku, meski suara hatiku bergetar.

Aku mengangguk. Sebuah rasa tanggung jawab menggelora dalam diriku. Aku berjanji pada diri sendiri akan melindungi warisan itu, sekaligus menjaga rahasia ini tetap aman. Keesokan paginya, hujan sudah mereda. Aku menyiapkan perlengkapan penjelajahan: peta, kompas, dan buku catatan Raden Oka. Dengan izin Ibu Maya, aku berangkat menuju pegunungan barat laut, mengikut jejak yang ditandai pada peta.

Ibu Maya menggeleng pelan, lalu mengeluarkan sebuah kunci kecil dari dalam sakunya. "Ini bukan barang biasa, Raka. Ini adalah… sebuah rahasia yang sudah lama aku jaga. Aku ingin kau menjadi satu-satunya orang yang tahu." Dengan perlahan, aku membuka kotak itu. Di dalamnya terdapat sebuah buku kulit tipis berwarna cokelat, dengan tulisan berwarna emas di sampul: “ROE‑091” . Di antara lembar-lembarnya, terdapat foto-foto hitam‑putih, peta kuno, dan catatan tangan yang rapat.

Ibu Maya tersenyum, mengangguk, lalu menutup buku . "Terima kasih, Raka. Hanya kamu yang tahu rahasia ini, dan kini kamu tahu betapa berartinya kepercayaan." Epilog – Jejak yang Tak Terhapus Sejak saat itu, persahabatan antara aku, Dinda, dan Ibu Maya semakin kuat. Setiap kali aku menelusuri situs kuno, aku selalu mengingat pelajaran dari ROE‑091 : sejarah bukan hanya batu dan artefak, melainkan kepercayaan, niat, dan hati yang bersih. ROE-091 Hanya Aku Yang Tahu Rahasia Ibu Temanku...

Aku menurunkan napas panjang, mengingat nasihat Ibu Maya. Dengan hati yang tenang, aku menutup mata sejenak, mengalirkan niat untuk membantu, bukan untuk mencari keuntungan. Saat aku membuka mata, sebuah sinar lembut menyusup melalui celah batu, menyoroti sebuah kristal merah kecil di tengah ruangan— yang legendaris. Bab 6 – Kembali dengan Pengetahuan Aku mengangkat kristal itu dengan hati-hati, menaruhnya dalam kotak kayu yang sama. Perjalanan pulang terasa lebih ringan, seakan beban dunia telah terangkat. Saat tiba di desa, Ibu Maya menunggu dengan cangkir kopi hangat di tangannya.

— Selesai

Dan walaupun dunia tetap sibuk dengan hiruk‑pikuknya, di sebuah rumah panggung merah bata, masih ada kotak kayu tua yang terkunci rapat—menyimpan rahasia yang kini hanya diketahui oleh satu orang: seorang mahasiswa yang belajar menghargai setiap jejak masa lalu, sekaligus menjaga cahaya tetap bersinar dalam kegelapan. Aku menahan napas

"Kamu harus hati-hati," kata Ibu Maya, "Bukan hanya pengetahuan yang dibutuhkan, tapi hati yang bersih. Banyak orang yang telah mencoba, tapi mereka terjebak dalam keserakahan."

Perjalanan itu tidak mudah. Jalur licin, semak belukar, dan suara binatang liar menemani setiap langkahku. Namun, setiap kali rasa lelah menyerang, aku teringat pada senyuman Ibu Maya dan kepercayaan yang dia berikan.

Buku itu berisi catatan seorang arkeolog bernama Raden Oka, yang pada tahun 1941 menemukan sebuah situs misterius di pegunungan barat laut Pulau Jawa. Situs itu disebut , sebuah ruangan tersembunyi yang konon menyimpan sebuah artefak kuno bernama “Lilin Merah” —sebuah batu kristal yang diyakini mampu menyerap energi alam dan memproyeksikan cahaya yang dapat menyembuhkan luka jiwa. Sebuah rasa tanggung jawab menggelora dalam diriku

Di sebuah rumah panggung berwarna merah bata, tinggallah Ibu Maya, ibu dari sahabatku, Dinda. Dinda adalah gadis ceria berusia 17 tahun, selalu menghabiskan waktunya membantu ibunya di warung kecil yang menjual kopi dan kue kelapa. Ibu Maya, wanita berusia empat puluh lima tahun dengan rambut hitam yang selalu diikat rapi, dikenal semua orang sebagai sosok yang penyabar, ramah, dan penuh cerita tentang masa mudanya di kota.

Aku menyerahkan kristal itu kepada Ibu Maya, namun ia menolak. "Aku tidak ingin kamu menyimpannya. Aku akan mengirimkannya ke museum nasional, tetapi kamu—kamu yang pertama kali membuka pintu rahasia ini. Ceritakan kepadaku apa yang kamu pelajari."

Aku menjawab, "Aku belajar bahwa setiap rahasia memiliki tujuan. Ada yang menunggu waktu yang tepat untuk terungkap, dan ada yang menunggu hati yang bersih untuk menjaganya."

Aku sering mengunjungi mereka. Kadang hanya untuk menukar cerita, kadang pula untuk meminta kopi hangat sebelum kembali ke situs penggalian. Namun, ada sesuatu yang selalu membuatku penasaran: sebuah kotak kayu kecil yang selalu tersembunyi di balik tirai jendela ruang tamu, terkunci rapat dengan gembok tua berkarat. Suatu malam, hujan deras menuruni atap rumah panggung, menambah suasana misterius. Dinda tak kembali ke rumah karena harus membantu teman di kampus, dan Ibu Maya tampak kelelahan setelah menyiapkan semua persediaan untuk esok hari. Aku duduk di teras, menatap hujan, ketika terdengar suara ketukan lembut di pintu.

Shopping cart

0

No products in the cart.

Enter your search & hit enter