“Lalu kenapa kamu tidak bilang dari dulu?!”
: "Terus kenapa kamu nggak bilang dari dulu?!"
looks up, curious. "Ngakuin apa? Lo baru bangun tidur, ngakuin habis mimpi buruk?"
“Rak... aku mau mengakui sesuatu.”
Dinda looks up, surprised.
“Jadi... kamu yang membuat Sarah menangis hingga pindah sekolah?”
Dinda doesn’t smile. Her fingers tremble.
: "Dinda... aku juga punya pengakuan."
Silence. Rain grows louder.
“Karena aku juga takut. Takut jika aku salah duga. Tapi sekarang aku tahu. Kamu lebih dari sahabat untukku. Hanya... kita berdua terlalu bodoh untuk mengakui cinta lebih awal.”
“Mengakui apa? Kamu baru bangun tidur, mau mengaku habis mimpi buruk?”
“Lalu kenapa kamu tidak bilang dari dulu?!”
: "Terus kenapa kamu nggak bilang dari dulu?!"
looks up, curious. "Ngakuin apa? Lo baru bangun tidur, ngakuin habis mimpi buruk?"
“Rak... aku mau mengakui sesuatu.”
Dinda looks up, surprised.
“Jadi... kamu yang membuat Sarah menangis hingga pindah sekolah?”
Dinda doesn’t smile. Her fingers tremble.
: "Dinda... aku juga punya pengakuan."
Silence. Rain grows louder.
“Karena aku juga takut. Takut jika aku salah duga. Tapi sekarang aku tahu. Kamu lebih dari sahabat untukku. Hanya... kita berdua terlalu bodoh untuk mengakui cinta lebih awal.”
“Mengakui apa? Kamu baru bangun tidur, mau mengaku habis mimpi buruk?”